Selasa, 26 Maret 2013

PENELITIAN KUANTITATIF


PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING
 ( PENGAJARAN TERBALIK ) TERHADAP HASIL BELAJAR KEWIRAUSAHAAN SISWA KELAS XI AP DI SMK
SRI LANGKAT TANJUNG PURA
 TAHUN AJARAN 2011 / 2012

I R D A  S U R I A N I
ABSTRAK
            Masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran reciprocal teaching (pembelajaran terbalik) dan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran kewirausahaan kelas XI AP SMK Sri Langkat Tanjung Pura tahun pembelajaran 2011/2012”.Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling yaitu kelas XI-A sebagai kelas eksperimen dan kelas XI-B sebagai kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa berbentuk tes pilihan berganda sebanyak 20 item soal.Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai rata-rata postest siswa kelas eksperimen = 65,625 dengan S = 8,33, dan nilai rata-rata postest siswa kelas kontrol = 59,875 dengan S = 8,50, hipotesis dalam penelitian diuji dengan uji t, thitung sebesar 3,111 sedangkan ttabel sebesar 1,667 pada taraf α = 0,05 dan interval kepercayaan 95% dengan dk = 39. Dengan demikian thitung > ttabel yaitu 3,111 > 1,667 berarti hipotesis alternatif atau Ha diterima atau Ho ditolak.Dengan demikian disimpulkan berdasarkan hasil perhitungan di atas bahwa ada perbedaan hasil belajar yang positif dan signifikan dalam pembelajaran yang menggunakan pembelajaran terbalik dan pembelajaran langsung pada mata pelajaran ekonomi kelas XI AP SMK Sri Langkat Tanjung Pura tahun pembelajaran 2011/2012.

Kata Kunci   :  Model Pembelajaran Reciprocal Teaching (Pembelajaran Terbalik) dan Hasil Belajar Siswa

ABSTRACT
            The problem of this study is whether the difference between study results that using reciprocal teaching and direct instruction in the eyes of economic studies class XIAP  SMK Sri Langkat  in 2011/2012 school year. The aim of this study is to know the difference of students results that using reciprocal teaching and direct instruction.The results of the data analysis shown that the average of postest score in experiment class was 65,625 with S = 8,33. And the average of postest score in controll class was 59,875 with S = 8,50. The hypotesis test using t-test, taccount was 3,111 and ttable was 1,667 at α = 0,05 and credible interval in 95% and dk = 39. It means taccount > ttable since 3,111 > 1,667 and Ha is accepted or Ho is denied.Thus, this study can be calculated that there is the positive and significant difference of students results that using reciprocal teaching and direct instruction on economic class XIAP SMK Sri Langkat Tanjung Pura in 2010/2011 school year.

Keyword   :    Reciprocal Teaching, Direct Instruction and The Student Results

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai kunci pokok untuk mencapai cita-cita suatu bangsa, karena pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu hendaknya dikelola dengan baik kualitas maupun kuantitasnya. Untuk dapat mewujudkan itu banyak hal yang harus diperhatikan mulai dari pengadaan tenaga pendidik sampai pada usaha peningkatan kualitas pendidikan.
Menurut Rahman (2008:453) Masalah kualitas pendidikan merupakan salah satu masalah krusial di bidang pendidikan yang sedang dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain masalah-masalah kuantitas, masalah efektivitas, masalah efisiensi, dan masalah relevansi merupakan masalah yang dihadapi bidang pendidikan di Indonesia.
Kualitas pendidikan yang masih rendah di Indonesia menjadi sorotan tajam berbagai pihak. Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam mewujudkan kualitas pendidikan, mulai dari merevesi hingga mengubah kurikulum, pengadaan buku, sarana pendidikan, manajemen pendidikan di sekolah, menyelenggarakan pelatihan-pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, karena guru merupakan unsur yang mempunyai peranan penting dalam mewujudkan proses belajar mengajar (PBM) yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Dari pengamalan peneliti selama  melaksanakan program pengalaman lapangan (PPL) di SMK SRI Langkat Tanjung Pura, model pembelajaran dalam  Kewirausahaan yang seringkali diterapkan adalah model pembelajaran konvensional yang bentuk pembelajarannya bersifat satu arah. Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang terpusat dari guru dimana guru kurang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, guru lebih banyak memberikan informasi-informasi sedangkan siswa kurang diberi kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuannya. Pengalaman siswa terbatas hanya sekedar mendengarkan dan masih rendahnya pengembangan proses berfikir siswa. Sehingga siswa kurang aktif dalam berfikir, memberikan ide-ide, kurang percaya diri dalam kegiatan proses belajar mengajar (PBM).
Sistem pembelajaran yang demikian dapat menimbulkan rasa jenuh bagi peserta didik bahkan dapat menimbulkan rasa tidak suka terhadap pelajaran tersebut sehingga tidak maksimal menyerap materi pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini dapat terlihat dari rendahnya nilai hasil belajar siswa pada mata diklat mail handling yang hanya mencapai nilai rata-rata 60,00 sedangkan nilai ketuntasan yang harus dicapai siswa minimal 70,00 berdasarkan Standart Ketuntasan Nilai (SKN) yang telah ditetapkan.
Berdasarkan masalah yang dikemukakan di atas maka perlu dikembangkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa secara langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan berbagai strategi pemahaman mandiri, seperti menemukan masalah untuk dirinya, saling mendiskusikan masalah tersebut dengan teman-temannya, berusaha berfikir sendiri dan mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu guru menujuuk siswa tampil di depan kelas. Dalam konteks tukar menukar pengetahuan, mengajukan dan menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa, antar siswa dengan guru mampu memprediksikan persoalan selanjutnya, merupakan strategi pokok dalam model pembelajaran Reciprocal Teaching (pengajaran terbalik).
Sriyanti dan Marlina (2005:118) pembelajaran terbalik memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri sehingga peserta didik mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran terbalik didasari pengalaman belajar siswa dalam memahami bacaan dengan lebih menyenangkan, sehingga dapat mendukung aktivitas belajar siswa di kelas seperti terjadinya dialog antar siswa.
Model pembelajaran Reciprocal Teaching (pengajaran terbalik), mempunyai keunggulan tersendiri yaitu lebih mengutamakan peran aktif siswa, siswa mampu memahami dengan berfikir kreatif terhadap tantangan yang dihadapkan untuk berikutnya, siswa yang lebih pintar membantu siswa yang kurang pintar sehingga terjadi interaktif antar sesama siswa, hal ini akan meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan Model Pembelajaran Reciprocal Teaching (pengajaran terbalik) diharapkan siswa tidak hanya sebagai pendengar tetapi siswa juga dapat terlibat secara aktif pada saat proses belajar mengajar.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
            Penelitian ini dilakukan di SMK Sri Langkat Tanjung Pura yang terletak dijalan Madrasah No.7 kel.Pekan Tanjung Pura Kec.Tanjung Pura Kab.langkat dilaksanakan penelitian pada semester ganjil tahun pembelajaran 2011/2012.Populasi adalah keseluruhan dari obyek yang akan diteliti. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini ialah seluruh siswa kelas XI AP SMK Sri Langkat Tanjung Pura Tahun Ajaran 2011/2012, yaitu sebanyak 120 orang yang terdiri dari 3 kelas.Sampel adalah sebagian atau keseluruhan secara random sampling. Pada penelitian ini  kelas XI-A yang berjumlah 40 siswa ditetapkan menjadi kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran terbalik (kelas eksperimen) dan kelas XI-B yang berjumlah 40 siswa ditetapkan menjadi kelompok yang mendapatkan model pembelajaran konvensional (kelas kontrol).
 Metode
Dalam penelitian ini subjek dibagi atas dua kelompok, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol dimana kedua kelas ini mendapat perlakuan yang berbeda. Kelas eksperimen adalah kelas yang diberikan model pembelajaran terbalik sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diberi model pembelajaran konvensional. Kedua kelompok diberi materi yang sama sesuai dengan tahapan-tahapan kegiatannya. Sebelum memulai perlakuan kedua kelas tersebut diberi test awal dengan 20 butir soal yang sama dan setelah melakukan perlakuan kedua kelas diberi lagi test akhir pada masing-masing kelas. Seperti dalam tabel berikut: desain penelitian


no                          Kelas                         Tes Awal               Perlakuan          Tes Akhir
1.                   Kelas Eksperimen                      T1                                    X1                                 T2
2.                   Kelas Kontrol                             T1                                    X2                                 T2
Dimana:
X1 = Model Pembelajaran terbalik
X2 = Model Pembelajaran langsung
            T1 = Tes Awal (pre test)
            T2 = Tes Akhir (post test)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
           
Sebelum penelitian ini dilaksanakan, peneliti telah terlebih dahulu mengujicobakan tes pada kelas lain untuk melihat validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran soal, dan daya pembeda tes.
            Setelah tes diujicobakan kepada 40 orang siswa diperoleh 20 soal dinyatakan valid, keseluruhan soal dinyatakan reliabel. Berdasarkan tingkat kesukaran soal diperoleh 1 soal kategori mudah dan 19 soal kategori sedang. Berdasarkan daya beda pembeda tes diperoleh 8 soal kategori cukup, 9 soal kategori baik, 1 soal kategori sangat baik, dan 2 soal kategori jelek.
            Berdasarkan data hasil penelitian dengan jumlah sampel 80 orang siswa yang terdiri dari 2 kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diberi perlakuan yang berbeda, kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran reciprocal teaching (pembelajaran terbalik) dan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional.
            Pada awal penelitian ini diberikan pretest kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Diperoleh nilai rata-rata untuk kelas eksperimen 39,375 dan untuk kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata 38. Dari hasil pretest terlihat bahwa hasil belajar siswa sebelum diterapkan pengajaran dengan model pembelajaran reciprocal teaching (pembelajaran terbalik) dan model pembelajaran konvensional tergolong rendah dan homogen.
            Berdasarkan hasil penelitian uji homogenitas data pretest tidak terdapat perbedaan kedua varians atau kedua sampel homogen dimana Fhitung = 1,079 <  Ftabel 1,705 sedangkan untuk data postest diperoleh Fhitung = 1,041 < Ftabel 1,705 yang berarti data postest memiliki varians yang homogen juga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data pretest dan data postest memiliki varians yang homogen.
            Dari hasil analisis data pretest diperoleh nilai Lo = 0,1304 untuk kelas eksperimen dan Lo = 0,1264 untuk kelas kontrol. Sedangkan untuk data postest diperoleh Lo = 0,1279 untuk kelas eksperimen dan Lo = 0,1210 untuk kelas kontrol. Dimana nilai-nilai Lo tersebut diatas lebih kecil dari nilai Ltabel yaitu 0,1401 sehingga disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Indikator yang pertama keputusan dengan No. Item soal tes 1,2,3,4,5 dan 6 diperoleh nilai rata-rata jawaban sebesar 2,43 dikategorikan tinggi karena berada pada skala nilai 2,36 – 3,03. Indikator yang kedua tingkat pengambilan keputusan dilihat dengan No. Item soal tes 7 yaitu nilai rata-rata jawaban siswa sebesar 2,30 dikategorikan cukup karena berada pada skala nilai 1,68 – 2,35. Indikator ketiga proses pengambilan keputusan dengan No.Item soal  8,9,10,11,12, dan 13 yaitu dengan nilai rata – rata jawaban siswa sebesar 2,54 Dikategorikan tinggi karena berada pada skala 2,36 – 3,03. Indikator keempat aspek pengambilan keputusan dengan No.Item soal tes 14,15,16,17,dan 18 yaitu nilai rata – rata jawaban siswa 2,31 dikategorikan cuku karena berada pada skala nilai 1,68 – 2,35. Indicator kelima yaitu sistem kepuasan dalam pengambilan keputusan dengan No.Item 19 dan 20 yaitu nilai rata – rata jawaban siswa sebesar 2,25 dikategorikan cukup karena berada pada skala nilai 1,68 – 2,35.  
Dari hasil penelitian mengungkapkan bahwa ada pengaruh yang signifikan hasil belajar siswa yang diajarkan melalui model pembelajaran reciprocal teaching (pembelajaran terbalik). Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai pre test siswa sebesar 51,25 dengan standar deviasi sebesar 8,9.
Dari hasil pemberian postest pada kedua kelas diperoleh nilai rata-rata postest kelas eksperimen adalah 65,625 dan nilai rata-rata kelas postest kelas kontrol adalah 59,875.
            Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang berarti antara hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran reciprocal teaching (pembelajaran terbalik) dan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran kewirausahaan. Serta adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan model pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik), karena model pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik) merupakan suatu model pembelajaran yang mewujudkan pembelajaran yang efektif dengan kegiatan belajar mandiri siswa. Dan pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik) merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri sehingga peserta didik mampu menjelaskan temuannya kepada pihak lain serta dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam belajar mandiri. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji hipotesis pada taraf signifikan 95% dan derajat kebebasan (dk) = n1 + n2 – 2, dimana nilai thitung  dengan menggunakan data postest maka diketahui bahwa thitung > ttabel.
            Selanjutnya berdasarkan hasil perhitungan uji t ataupun uji beda thitung = 3,111 > ttabel = 1,667 (hasil interpolasi) pada taraf kepercayaan 95% atau α = 0,05. Kriteria pengujian menentukan bahwa bila thitung > ttabel. Dengan demikian hasil perhitungan uji t mendukung bahwa hipotesis yang dirumuskan dapat diterima kebenarannya. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar kewirausahaan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik) lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan model pembelajaran konvensional di kelas XI AP   SMK Sri Langkat Tanjung Pura Tahun Pelajaran 2011/2012.


KESIMPULAN DAN SARAN
 Kesimpulan

            Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil penelitian pada bab sebelumnya maka pada bab ini peneliti dapat mengambil kesimpulan yaitu:
1.      Nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik) adalah 65,625.
Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional adalah 59,875.
2.      Berdasarkan hasil perhitungan uji hipotesis diperoleh bahwa thitung > ttabel atau 3,111 > 1,667. Sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima. Ada pengaruh yang signifikan antara  model pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik) terhadap hasil belajar kewirausahaan siswa di kelas XI AP SMK Sri langkat Tanjung pura Tahun pelajaran 2011/2012
3.      Hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik) lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran kewirausahaan di kelas XI AP SMK Sri Langkat Tanjung Pura Tahun Pelajaran 2011/2012.
4.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik) lebih baik dari pada model pembelajaran konvensional.

 
 

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti menyampaikan saran sebagai berikut:
1.      Diharapkan kepada guru hendaknya dapat menerapkan model pembelajaran reciprocal teaching (pembelajaran terbalik) untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran di kelas sebagai variasi guru mengajar terutama untuk materi yang bersifat teori atau berupa wacana.

2.      Guru hendaknya merancang skenario pembelajaran yang tepat, agar proses pembelajaran berlangsung efektif, efesien, dan berhasil
3.      Yayasan maupum kepala sekolah hendaknya lebih mendorong guru lebih inovatif dalam meningkatkan dan menggunakan sebagai penggunaaan variasi model pembelajaran dalam proses belajar mengajar sebagai sarana untuk menunjang pelajaran.

4.      Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui cara meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran reciprocal teaching (pemebelajaran terbalik) sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara memodifikasi desain atau rancangan penelitian sehingga diperoleh perubahan-perubahan yang positif dan signifikan.



DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Allen,S.2003. An analitytic comparison of three models of reading strategynistrution .        IRAL: international Review of Appalied Linguistitics in Language Teaching. 41   (4), 319-339. The University of Georgia,             America.http://projects.coe.uga.Edu/eplttindex.phptitle.reciprocal teaching,           diakses pada tanggal 06 september 2011
Aunurrahman. 2009. Belajar Mengajar. Bandung : Alfabeta
Barthos, Basir. 2003. Manajemen Kearsipan, Jakarta : Kencana
Bloom, S Benjamin .2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom
                    (Diakses Tanggal 22 September 2011)
Debdiknas. 2008. Pembelajaran Konvensional. http://ioptes.wordpress.com. (Diakses        tanggal 10 April 2011)
Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri dan Azwan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :         Rineka Cipta
Dyah C.S. Indrawaty dan Ratna Andry Astuty. 2008. Pndidikan bagi anak berkesulitan belajar. Semarang : Tiga Serangkai
Geer, R. Douglas. 2003. Designing Tealhing Strategies. California Academic Press
Gulo, W. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Grasindo
Purwanto. 2007. Pengaruh Konsekuensi Perilaku dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 069, Tahun ke-13, November 2007, Hal 1027. Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional
Trianto.2007. Model-Model Pembelajaran Innovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar